-->
  • Jelajahi

    Copyright © BATU BERTULIS NEWS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Adrianus Asia Sidot Serukan Penguatan Nilai Kebangsaan di Tengah Arus Globalisasi

    Bertulis Network
    Tuesday, 17 March 2026, March 17, 2026 WIB
    Adrianus Asia Sidot saat menghadiri kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Landak. 


    Batubertulisnews.com, Landak- Kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar oleh Adrianus Asia Sidot di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Acara yang dilaksanakan tersebut bertempat di aula universitas dan dihadiri oleh para dosen, staf akademik, serta ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas, pada Senin, 16 Maret 2026.


    Dalam pemaparannya, Adrianus Asia Sidot menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menyampaikan bahwa di tengah dinamika globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan bangsa.


    “Kampus adalah ruang intelektual yang sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Mahasiswa bukan hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat,” ujar Adrianus dalam sambutannya.


    Suasana kegiatan berlangsung interaktif, dengan sesi tanya jawab yang membuka ruang dialog antara narasumber dan peserta. Sejumlah mahasiswa dan peserta aktif mengajukan pertanyaan kritis seputar implementasi nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.


    Fransiskus Lori, sebagai penanya pertama, menyoroti tantangan generasi muda dalam menjaga nilai persatuan di era media sosial yang sarat dengan polarisasi. Ia bertanya bagaimana cara konkret mahasiswa dapat menjadi agen pemersatu di tengah perbedaan pandangan.



    Menanggapi hal tersebut, Adrianus menekankan pentingnya literasi digital dan sikap bijak dalam menyaring informasi. “Mahasiswa harus menjadi pelopor dalam menciptakan ruang digital yang sehat dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah,” jawabnya.


    Penanya kedua, Anastasia, mengangkat isu terkait relevansi Pancasila di tengah arus budaya global yang semakin kuat. Ia mempertanyakan bagaimana nilai-nilai lokal dapat tetap bertahan tanpa tergerus modernisasi.


    Adrianus menjelaskan bahwa Pancasila justru bersifat adaptif dan mampu menjadi filter terhadap pengaruh luar. “Kita tidak perlu menolak globalisasi, tetapi harus cerdas dalam memilih nilai yang sesuai dengan jati diri bangsa,” ungkapnya.


    Sementara itu, Redemta Vrili sebagai penanya ketiga menyoroti peran institusi pendidikan dalam menanamkan nilai kebangsaan secara berkelanjutan. Ia menanyakan strategi konkret agar pendidikan karakter tidak hanya menjadi teori semata.


    Dalam jawabannya, Adrianus menegaskan pentingnya kolaborasi antara dosen, kurikulum, dan kegiatan kemahasiswaan. “Nilai kebangsaan harus dihidupkan dalam praktik, baik melalui diskusi, kegiatan sosial, maupun keteladanan dari para pendidik,” jelasnya.


    Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dapat menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan. Antusiasme peserta yang tinggi menjadi indikator bahwa semangat nasionalisme masih tumbuh subur di kalangan generasi muda. 

    Komentar

    Tampilkan